Apakah Cancel Culture Masih Relevan di 2026?
Setelah bertahun-tahun menjadi senjata utama media sosial, cancel culture mulai kehilangan taringnya. Atau justru berevolusi menjadi sesuatu yang lebih berbahaya?
Cancel culture — praktik menarik dukungan publik terhadap seseorang setelah melakukan hal yang dianggap problematis — telah menjadi fitur utama internet selama hampir satu dekade. Tapi di 2026, lanskap ini sudah berubah drastis.
Dari Cancel ke Consequence Culture
Yang dulunya disebut "cancel culture" kini lebih tepat disebut "consequence culture". Perbedaannya? Cancel culture cenderung bersifat mob justice — serangan massal tanpa nuansa. Consequence culture lebih tentang akuntabilitas yang terstruktur.
Kelelahan Kolektif
Salah satu alasan utama mengapa cancel culture kehilangan momentum adalah kelelahan kolektif. Publik sudah capek untuk terus-terusan marah di internet. Studi dari Pew Research menunjukkan bahwa 72% pengguna media sosial merasa exhausted dengan drama online.
Evolusi, Bukan Kematian
Tapi jangan salah — cancel culture tidak mati. Ia berevolusi. Sekarang, alih-alih boikot massal yang cepat padam, kita melihat bentuk-bentuk akuntabilitas yang lebih subtle tapi justru lebih efektif: quiet unfollowing, selective spending, dan community-driven standards.
Kategori
Opinion