Kembali ke Home
Opinion

Apakah Cancel Culture Masih Relevan di 2026?

Setelah bertahun-tahun menjadi senjata utama media sosial, cancel culture mulai kehilangan taringnya. Atau justru berevolusi menjadi sesuatu yang lebih berbahaya?

Admin Noise Talks4 jam lalu6 min
Apakah Cancel Culture Masih Relevan di 2026?

Cancel culture — praktik menarik dukungan publik terhadap seseorang setelah melakukan hal yang dianggap problematis — telah menjadi fitur utama internet selama hampir satu dekade. Tapi di 2026, lanskap ini sudah berubah drastis.

Dari Cancel ke Consequence Culture

Yang dulunya disebut "cancel culture" kini lebih tepat disebut "consequence culture". Perbedaannya? Cancel culture cenderung bersifat mob justice — serangan massal tanpa nuansa. Consequence culture lebih tentang akuntabilitas yang terstruktur.

Kelelahan Kolektif

Salah satu alasan utama mengapa cancel culture kehilangan momentum adalah kelelahan kolektif. Publik sudah capek untuk terus-terusan marah di internet. Studi dari Pew Research menunjukkan bahwa 72% pengguna media sosial merasa exhausted dengan drama online.

Evolusi, Bukan Kematian

Tapi jangan salah — cancel culture tidak mati. Ia berevolusi. Sekarang, alih-alih boikot massal yang cepat padam, kita melihat bentuk-bentuk akuntabilitas yang lebih subtle tapi justru lebih efektif: quiet unfollowing, selective spending, dan community-driven standards.

Kategori

Opinion