Kembali ke Home
Social Issue

Gig Economy dan Generasi Burnout: Hustle Culture yang Kelelahan

Dari freelance tanpa jaring pengaman hingga side hustle yang jadi main hustle — generasi muda Indonesia bicara soal kelelahan yang dinormalisasi.

Admin Noise Talks3 jam lalu7 min
Gig Economy dan Generasi Burnout: Hustle Culture yang Kelelahan
"Kalau kamu nggak hustle, kamu nggak berkembang." Narasi ini sudah begitu melekat di benak generasi muda Indonesia. Tapi di balik glorifikasi hustle culture, ada epidemi burnout yang semakin mengkhawatirkan.

Realita Gig Economy Indonesia

Data BPS menunjukkan bahwa 46% pekerja muda Indonesia terlibat dalam gig economy — dari ojol, freelance desain, content creator, hingga jual-beli online. Banyak di antaranya menjalani 2-3 pekerjaan sekaligus hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar.

"Saya kerja kantoran 9-to-5, terus malam jadi freelance desainer, weekend jualan online. Capek? Pasti. Tapi mau gimana lagi," ungkap seorang pekerja muda di Jakarta.

Side Hustle yang Jadi Kebutuhan

Yang awalnya dipromosikan sebagai "passion project" atau "income tambahan", side hustle kini menjadi kebutuhan survival bagi banyak anak muda. Gaji yang stagnan sementara biaya hidup terus naik memaksa mereka untuk terus berlari di hamster wheel yang tak berujung.

Burnout Bukan Badge of Honor

Psikolog klinis Dr. Amanda Putri menekankan bahwa burnout bukanlah tanda kerja keras — melainkan tanda sistem yang gagal. "Kita perlu berhenti meromantisasi kelelahan dan mulai menuntut kondisi kerja yang lebih manusiawi."

Kategori

Social Issue